Jannah Theme License is not validated, Go to the theme options page to validate the license, You need a single license for each domain name.
ArtikelBangka SelatanBerita

Dekonstruksi Ruang dan Eksistensi: Membedah WFH dalam Ontologi dan Epistemologi Administrasi

Penulis : Rori Windrasari Safitri, Kabid. Pengadaan, Mutasi dan Promosi Kepegawaian BKPSDMD Kabupaten Bangka Selatan.

 

Kebijakan Work From Home (WFH) seringkali hanya dibahas dalam ranah praktis dan dipandang sebagai solusi teknis atas kemacetan, efisiensi biaya atau pandemi. Namun, jika kita membedahnya dengan pisau Filsafat Ilmu Administrasi, WFH bukan sekadar perpindahan lokasi kerja, melainkan sebuah revolusi eksistensial terhadap hakikat “bekerja” yang mengguncang akar cara manusia berorganisasi.

Kebijakan Work From Home (WFH) telah bertransformasi dari sekadar respons darurat menjadi strategi manajemen organisasi yang modern. Dalam konteks tata kelola sektor publik maupun privat, kebijakan ini memerlukan keseimbangan antara fleksibilitas individu dan akuntabilitas kinerja.

1. Aspek Ontologis: Runtuhnya “Sakralitas” Kantor, Gugurnya Ruang sebagai Syarat Administrasi

Secara tradisional, administrasi berpijak pada asumsi bahwa koordinasi memerlukan kehadiran fisik dalam satu lokus. kantor dipandang sebagai lokus fisik yang absolut, sebagai “kuil” birokrasi di mana kekuasaan dan pengawasan bermanifestasi. Kantor adalah representasi kekuasaan dan keteraturan.

Dekonstruksi Ruang: WFH mengubah ontologi kantor dimana administrasi berpindah dari ruang fisik ke ruang fungsional. Administrasi tidak lagi memerlukan dinding, melainkan konektivitas. Dengan kata lain, WFH menciptakan “Administrasi Tanpa Tubuh”

Pergeseran Esensi: Jika dulu eksistensi pegawai divalidasi oleh absen, dimana esensi pegawai adalah “siapa yang duduk di kursi dari jam 8 sampai jam 5”, kini esensi mereka adalah “aliran data dan output”. WFH memaksa kita mengakui bahwa organisasi adalah sekumpulan relasi, bukan sekumpulan gedung.

2. Aspek Epistemologis: Pergeseran dari Pengawasan Mata ke Pengawasan Data, bagaimana Cara Kita “Tahu” Pegawai Bekerja

Baca juga  Layanan Jemput Bola Pembuatan Paspor Ramadhan di Basel Diminati, Wabup Debby; Mayoritas untuk Ibadah Umroh

Epistemologi administrasi mempertanyakan bagaimana seorang pimpinan mengetahui bahwa kinerja benar-benar terjadi. Bahwa seseorang sedang bekerja, inilah yang kemudian menjadi tantangan epistemologis WFH.

Dari Pengawasan ke Kepercayaan: WFH meruntuhkan epistemologi “Panopticon” (pengawasan terus-menerus). Pimpinan tidak lagi menggunakan indra penglihatan untuk memastikan dan memverifikasi kerja pegawainya.

Revolusi Indikator: WFH menggeser standar kebenaran administrasi. Pengetahuan tentang kinerja bergeser dari Input menjadi Output/Outcome, pengetahuan tentang kinerja diperoleh melalui metrik digital dan bukti empiris hasil akhir, bukan lagi melalui observasi proses.

Paradoks Kepercayaan: Muncul tantangan tentang “kebenaran” data. Apakah pegawai yang online benar-benar berpikir, atau hanya sekadar menggerakkan kursor (mouse jiggler)? Di sini, administrasi harus mendefinisikan ulang apa itu “kerja”. Epistemologi baru ini menuntut “iman” administratif. Atasan harus melepaskan obsesi untuk mengetahui proses (apa yang dilakukan karyawan di rumah) dan fokus sepenuhnya pada pengetahuan atas hasil.

3. Aspek Aksiologis: Etika dan Nilai Kemanusiaan vs. Efisiensi Mekanis

Aksiologi mempertanyakan nilai dan etika di balik sebuah kebijakan. Di sini, WFH menghadirkan ketegangan antara nilai efisiensi dan alienasi nilai kemanusiaan.

Nilai Positif

Reclaiming Time (Otonomi): Secara etis, WFH mengembalikan “kedaulatan waktu” kepada individu. Administrasi tidak lagi merampas waktu perjalanan (commute) yang secara filosofis merupakan “waktu mati”. Manusia kembali menjadi subjek yang memegang kendali atas waktunya sendiri.

Demokratisasi Ruang: Tidak ada lagi kursi empuk pejabat vs kursi plastik staf; semua sama di kotak layar.

1 2Laman berikutnya

Related Articles

error: Content is protected !!